Tuntut Keadilan, Kantor Polres Baubau Diserbu Massa

laanto, 24 Jan 2020, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

BAUBAU - Gabungan massa dari Aliansi Saliwu Bersatu Masyarakat Lipu Katobengke dan Aliansi Mahasiswa Anti Diskriminasi menggelar aksi unjuk rasa dengan datang berramai-ramai (menyerbu, red) ke kantor Polres Baubau pada Kamis (23/1/2020).

Massa aksi menuntut keadilan atas penetapan tersangka oleh pihak Polsek Murhum Polres Baubau terhadap dua korban jambret berinisial A dan R (Keduanya masih berstatus pelajar SMA Kelas X).

Dengan ditahannya A dan R yang notabene merupakan korban dari penjambretan yang terjadi di depan eks Karaoke Annisa jalan Betoambari, massa aksi menilai ada kejanggalan dan keanehan terhadap proses hukum yang terjadi di daerah Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Salah satu keluarga korban jambret (Yang juga ditetapkan sebagai tersangka pemukulan) bernama Dion menceritakan bahwa, kronologi penjambretan yang dialami keponakannya terjadi pada hari Rabu 1 Januari 2020 di depan eks Karaoke Annisa Kelurahan Katobengke, Kecamatan Betoambari, Kota Baubau.

"A dan R dihadang oleh pelaku berjumlah tiga orang yang tidak diketahui namanya, kemudian para pelaku melakukan penganiayaan dan mengambil HP kedua korban, karena  mendapat perlakuan yang dilakukan oleh pelaku jambret, kedua korban membela diri dengan memukul pelaku jambret sambil berteriak jambret," ungkapnya saat digelar aksi depan Kantor Polres Baubau, Kamis, (23/1/2020).

Para penjambret kemudian melarikan diri kata Dion, namun salah satu pelaku jambret tidak sempat melarikan diri sehingga diamuk warga. Tak lama kemudian, anggota kepolisian datang mengamankan para pelaku jambret ke Kantor Polsek Murhum.

"Pada saat itu juga kedua korban datang ke Kantor Polsek murhum dengan maksud melaporkan kejadian tersebut, namun ironisnya tidak ditanggapi oleh pihak kepolisian dan kami duga pelaku jembret ini dalam keadaan mabuk, terlihat saat ia muntah didepan Polsek dan bau alkohol," kata Dion.

Diungkapkannya, pada 3 Januari 2020 lalu, kedua korban pejambretan datang kembali ke kantor Polsek Murhum menanyakan perihal laporannya, namun lagi-lagi tidak digubris oleh pihak kepolisian Polsek Murhum.

"Bahwa pada tanggal 17 januari 2020 kedua korban datang kembali menanyakan laporannya dan diterima oleh pihak kepolisian untuk diperiksa, dengan harapan laporannya sebagai korban pejambretan ditindak lanjuti. Namun yang tejadi justru korban dijadikan sebagai saksi kasus penganiayaan yang dialami oleh pelaku jambret, sekaligus ditetapkan statusnya sebagai tersangka, dan pelaku jambret malah dibebaskan berkeliaran di Kota Baubau," ucapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh salah satu anggota DPRD Kota Baubau, La Madi. Ia mengaku geram dengan tindakan yang dilakukan oleh oknum anggota Polsek Murhum.

"Ini terasa rancu, saya dua kali ke Polsek tapi tidak digubris. Saya tanyakan BAP-nya, katanya tidak ada laporan dan terakhir saya tanyakan sudah dilimpahkan di Lapas," ujarnya.

"Saya tanya kenapa dilimpahkan ke Lapas, katanya sebagai tersangka. Dari mana kemana sampai dijadikan tersangka, mereka ini korban jambret. Katanya karena mereka memukul, bagaimana tidak memukul saat itu mereka sudah dirampas HPnya," tambahnya

Mantan anggota TNI-AD ini juga meminta agar Komisi Perlindungan Anak bisa mendampingi Korban jambret yang dijadikan tersangka 

"Psikologinya anak-anak ini terganggu di Lapas, mereka juga sudah tidak bisa mengikuti proses belajar di Sekolah," ucap La Madi.

Merespon hal ini, Kapolres Baubau AKBP Zainal Rio Candra Tangkari, SH., SIK, mengaku bertanggungjawab atas penetapan tersangka kedua Pelajar tersebut. 

"Saya sangat bertanggungjawab, kami akan lakukan penuntutan hukum seadil-adilnya dan itu jaminan dari saya. Upaya hukum yang dilakukan Polres Baubau dalam hal ini Polsek murhum itu masih berjalan, bukan berhenti disini. Proses penegakan hukum masih berjalan," tuturnya.

"Yang sudah dilakukan saat ini, itu sesuai dengan laporan yang sudah diterima, kalau ada yang tidak menerima maka laporkan sama saya dan pasti akan kami tindak lanjuti," sambungnya.

Saat massa aksi mempertanyakan perihal terkait ada dan tidaknya pemberian penangguhan terhadap A dan R, Kapolres Baubau menjelaskan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti sesuai proses.  

"Beri kami waktu, percayakan sama kami, masukan ini tidak akan berhenti disini, akan kami tindak lanjuti. Beri kami waktu untuk membuktikan bahwa kami profesional, karena ini proses penyelidikan butuh waktu tapi secepat-cepatnya. Kami akan gelar perkaranya," ungkap Kapolres Baubau.

Diketahui, korban jambret yang saat ini telah dijadikan sebagai tersangka kasus pemukulan mulai dititipkan di Lapas Kota Baubau sejak tanggal 18 Januari 2020, saat itulah yang bersangkutan tidak dapat lagi mengikuti kegiatan proses belajar mengajar di sekolahnya. (**)

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu